Individu yang mengalami mutasi yang
menguntungkan pada leluhur manusia berhasil selamat dan berkembang
biak. Sesederhana itu.
Namun setelah cukup lama berpikir,
ternyata keberadaan manusia di Bumi sekarang tidak semata karena
evolusi. Bila ditarik garis ke belakang, ke masa lalu, maka ada
serentetan peristiwa luar biasa yang menandai kehadiran kita di Bumi.
Mari kita telusuri ke masa lalu, apa saja yang menyebabkan mengapa
manusia ada.
Karena adanya Kekacauan
What? Tapi itu benar. Kita ada karena
dunia ini kacau. Fenomena ini dijelaskan oleh teori Chaos yang
terkenal dengan istilah Butterfly Effectnya. Pada dasarnya teori
Chaos mengatakan, sedikit saja gangguan pada sebuah sistem chaos,
maka akan terjadi perubahan perilaku yang drastis. Ambil contoh
begini, bayangkan kalau hidung Cleopatra sedikit saja lebih pesek
atau sepatu kuda raja Richard III kurang satu, kerajaan dapat runtuh,
dan dunia akan sangat berbeda dari sekarang. Inilah efek kupu-kupu,
sesuatu yang sepele, ternyata bisa berakibat besar. Para ilmuan
mengamatinya pada sistem cuaca. Sedikit saja suhu di naikkan, atau
kelembaban udara turun satu angka pada posisi desimal, maka cuaca
menjadi berubah drastis. Analoginya seperti meletakkan satu demi satu
bulu di atas jembatan. Suatu saat, entah itu kapan, kamu cukup
meletakkan satu bulu, dan tiba-tiba jembatan menjadi runtuh karena
bebannya terlampaui. Karenanya, kita ada sekarang, dipengaruhi oleh
begitu banyak kekacauan di masa lalu, berbagai peristiwa kecil yang
terlihat sepele namun berdampak luas bagi hidup kita.
Dari tak terhitung kekacauan yang
terjadi di dalam sejarah, tentunya ada peristiwa yang sangat kacau dan
peristiwa yang tidak terlalu kacau. Sebagai contoh, suhu di malam
orang tua saya ML menentukan keberadaan saya. Jika sedikit saja lebih
dingin, saya tidak akan ada. Tapi tetap ada manusia toh? Walaupun
bukan saya, tapi ia tetap mirip orang tua saya, dan mungkin mirip
saya. Dia tidak akan mirip dengan, katakanlah Zebra. Tentunya ada
sebuah saat dimana kekacauan lebih berpotensi menghasilkan kita
daripada kekacauan jenis lainnya. Jadi, mari kita tanyakan kembali,
mengapa manusia ada?
Karena Ada Danau Toba
Danau Toba dulunya adalah
supervolcano. Ia meletus sekitar 85 ribu tahun lalu dan mempengaruhi
Asia dan Afrika. Saat itu leluhur manusia kita hidup kurang lebih
stabil. Tapi dengan adanya letusan Toba, mereka dipaksa untuk
beradaptasi, atau mati. Kita diambang kepunahan waktu itu. Seandainya
para leluhur tidak mampu beradaptasi, kita tidak akan ada di sini.
Saat itu daerah subur merupakan harta
karun bagi leluhur. Para leluhur berkompetisi dengan sesama mereka
maupun dengan primata lainnya. Inovasi seperti alat batu dan alat
tulang merupakan hal yang berharga. Alat membantu kita mendapatkan
makanan jenis baru. Bayangkan sebuah kayu panjang yang dapat
menjatuhkan mangga atau cangkul untuk menggali umbi-umbian.
Dengan banyaknya tekanan seleksi
yang menggoyang evolusi kita, perlahan leluhur mulai berubah. Ucapan
mereka, misalnya, dulu hanya sederhana, mungkin hanya ah ih uh. Lama
kelamaan menjadi kompleks, dan membentuk bahasa kita. Dengan bahasa,
gagasan-gagasan dapat lebih luas, cakrawala lebih lebar dan lebih
sedikit kesalahpahaman. Mutasi pada gen pembentuk otak mengakibatkan
beberapa leluhur mampu melakukan vokalisasi yang lebih kompleks.
Keturunannya mampu berbicara dengan kosakata lebih banyak dan
fleksibel dan meledakkan kendala komunikasi interpersonal. Bahasa
telah muncul.

Tikus memiliki gen yang mempengaruhi
ucapan dan bahasa manusia, sebuah petunjuk kalau leluhur kita telah
memiliki gen ini semenjak zaman dinosaurus
Tapi saat ini manusia sudah ada.
Karenanya, mengapa manusia ada belum terjawab. Terjadinya letusan Toba
mungkin menjawab pertanyaan, mengapa manusia memiliki teknologi,
mengapa kita tidak seperti manusia purba, tapi tidak banyak perbedaan
antara manusia sekarang dengan 70 ribu tahun lalu. Kita masih satu
spesies, sama-sama Homo sapiens. Jadi, mengapa manusia ada?
Karena Pohon sedikit
Sebelum sekitar 20 juta tahun lalu,
Afrika Timur dipenuhi hutan rimba tropis mirip Amazon. Leluhur kita
berlompatan di pepohonan, menikmati lebatnya pepohonan. Kemudian Bumi
bergerak, magma di bagian bawah Ethiopia Utara menggeser perlahan.
Dalam 15 juta tahun kemudian, dua pegunungan raksasa terbentuk dari
utara ke selatan, masing-masing dengan tinggi 2 kilometer dari utara
ke selatan. Dari Timur, angin yang datang dari Samudera Hindia
ditolak balik oleh pegunungan ini. Dari Barat, angin yang datang dari
Samudera Atlantik dan Kongo di tolak balik, juga oleh pegunungan
ini. Akibatnya, curah hujan menurun. Hutan rimba perlahan berubah
menjadi padang rumput yang luas.
Bagi leluhur kita, tinggal di pohon
tidak lagi nyaman. Pohon sedikit dan populasi mereka bertambah.
Berdesakan di pohon tidaklah baik. Kadang ada yang jatuh dan tewas.
Ada banyak jalan sebenarnya, tapi kebetulan, sebuah mutasi
memungkinkan leluhur untuk dapat berjalan, bukannya berayun di
pepohonan. Kemampuan berjalan memberi banyak kemudahan. Dan tibalah
saat itu, 6 juta tahun lalu, sebuah spesies primata belajar berdiri
dan berjalan dengan dua kaki.
Lingkungan yang berubah cepat berarti
evolusi primata ini tidak berhenti sampai disini. Sekitar 2.5 juta
tahun lalu, evolusi mengambil dua jalan. Pertama menuju otak yang
lebih besar agar dapat mencari cara lebih baik untuk beradaptasi,
kedua dengan mengembangkan rahang yang lebih besar untuk memakan biji
dan umbi yang keras. Strategi pertama memiliki kekuatan terbesar.
Manusia dengan rahang besar punah, sementara manusia dengan otak
besar, Homo habilis, bertahan. Dialah leluhur semua manusia di Bumi
sekarang.
Saat ini jawaban kita pada pertanyaan:
Mengapa manusia ada, adalah karena pepohonan sedikit. Leluhur kita
hidup di pohon, tanpa pohon mereka harus beradaptasi, atau mati. Lalu
mengapa leluhur yang hidup di pohon ini ada? Mengapa primata ada?
Karena dinosaurus punah
Meteor raksasa yang pernah kami bahas
dalam dampak tumbukan meteor, yang kita simulasikan jatuh di Bandung
dan menghabisi umat manusia, jatuh sekitar 100 juta tahun sekali.
Tapi justru keberadaan kita mungkin disebabkan peristiwa yang sama,
65 juta tahun lalu.
Saat itu, sebuah asteroid
berdiameter 10 kilometer menghantam semenanjung Yucatan di Meksiko
masa kini. Karbon dan gas kaya belerang dari lapisan batuan yang
terhantam mencuat ke angkasa yang terbakar, langit menghitam, Bumi
mendingin dan hujan asam mengguyur. Dalam beberapa bulan, seluruh
spesies dinosaurus punah. Begitu juga beberapa spesies reptil di
lautan dan udara, amonita, sebagian besar burung dan tanaman darat.
Separuh spesies mamalia ikut punah.
Yang bertahan hidup adalah mereka yang paling kecil dan lincah,
berlarian bersembunyi di balik batuan dan reruntuhan. Mereka pemakan
bangkai dan justru senang melihat punahnya dinosaurus. Di satu sisi
mereka tidak memiliki predator, di sisi lain, bangkai dinosaurus
berserakan di mana-mana. Sebuah pesta besar bagi mamalia kecil. Dalam
waktu singkat, mamalia berkembang biak, meluas di sekitar ekosistem
air tawar.
Merekalah para pewaris bumi. Mamalia
menggantikan kekuasaan dinosaurus di darat dan kemudian di laut.
Kita belum menguasai udara. Burung lebih cepat ke sana, sementara
kelelawar tidak terlalu mampu.
10 juta tahun setelah kepunahan
dinosaurus, mamalia menjalari segala jenis niche di darat, dengan
berbagai jenis adaptasinya, salah satunya di pepohonan, seperti
leluhur kita. Tapi, kenapa dinosaurus, mamalia dan semua hewan yang
disebutkan di atas ada?
Karena Pemanasan Global
800 juta tahun lalu, seluruh daratan
di Bumi tersatukan dalam superbenua Rodinia. Super benua ini mulai
retak, rusak di setiap pijakannya, akibat aktivitas magma. Dari
retakan-retakan tersebut melepaskan gas yang mempengaruhi cuaca
sehingga udara lebih dinamis dari sebelumnya. Samudera dipenuhi
nutrisi, sama halnya dengan suburnya daerah sekitar gunung berapi
sekarang. Populasi Cyanobacteria meledak. Karena cyanobacteria adalah
bakteri fotosintesis,
maka ini berarti terjadi ledakan oksigen di mana-mana. Sampah
fotosintesis ini menjalari atmosfer Bumi. Ya, oksigen adalah sampah. Ia
hasil buangan dari proses fotosintesis tumbuhan.
Fotosintesis membutuhkan karbon
dioksida. Akibatnya, karbon dioksida disedot dari Bumi oleh para
cyanobacteria. Bumi pun mengalami pendinginan global. Sebuah periode
yang disebut ilmuan “snowball earth”. Mahluk-mahluk ber sel satu
menggigil kedinginan dan mati, beberapa ber evolusi, memunculkan tipe
sel baru yang lebih kompleks.
Mereka adalah ganggang hijau dan
lumut kerak. Perlahan mereka berusaha hidup di daratan. Keseimbangan
tercapai saat banyak cyanobacteria sendiri mati. Karbon dioksida
kembali bertambah. Mulailah pemanasan global.
635 juta tahun lalu, pemanasan global
membuat Bumi yang tertutup salju mulai mencair. Es menarik diri dari
khatulistiwa menuju ke kutub. Daratan terbuka dan para lumut kerak
bergembira. Mereka menancapkan akarnya (hifa) di bebatuan. Pelapukan
biologi, kimia dan fisika terjadi di daratan dan mengubah batuan
menjadi tanah. Sisa pelapukan terbasuh dari daratan ke lautan, dan
lautan ikut merasakan kegembiraan atas limpahan nutrisi.
Lumut kerak terus memangsa batuan dan
aliran nutrisi ke lautan terus menjejalkan kenikmatan pada para
bakteri fotosintesis. Oksigen pun melonjak kembali hingga pada
persentase sekarang.
580 juta tahun lalu, leluhur hewan
pertama muncul, lalu leluhur tanaman berdaun. Mereka pada gilirannya
kelak akan memiliki keturunan yang dapat berdiri di tepi pantai,
menghirup segarnya udara yang dibawakan angin laut.

Pantai British Columbia memberi petunjuk
kalau sebagian besar organisme lenyap dalam kepunahan global sekitar
252 juta tahun lalu
Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa ada ganggang hijau dan lumut kerak?
Karena ada Benturan dua mikroba
Kehidupan di bumi didominasi dua jenis sel: prokariota
(bakteri dan arkea) yang hanyalah sebuah tas kimiawi, dan eukariota,
sel dengan berbagai perlengkapan tempur untuk hidup lebih baik
(selaput internal, sistem rangka dan transportasi). Bakteri terbesar
di dunia hanyalah kurang dari satu milimeter, tapi sel eukariota
terbesar (telur) bisa mencapai hampir satu meter. Para bakteri hanya
mampu paling bisa membuat untai sel-sel sejenis dirinya, tapi sel
eukariota mampu bekerja sama membuat segalanya mulai dari otak, daun,
tulang dan kayu.
2 miliar tahun lalu, yang ada hanyalah
bakteri dan arkea. Keduanya adalah prokariota. Lalu kejadian aneh
terjadi. Seekor arkea yang sedikit berbeda dari leluhurnya berbenturan
dengan seekor bakteri. Proses kimia membuat mereka berikatan dan
tidak dapat lepas. Merekapun bersimbiosis, dan jadilah eukariota
pertama. Sang Bakteri itu sendiri bertugas sebagai pembangkit energi
sel. Ia ber evolusi menjadi mitokondria.
Istilah simbiosis di dalam sel
tersebut adalah endosimbiosis. Kloroplas misalnya, dulu adalah
bakteri fotosintesis yang hidup bebas. Ia ikut serta dalam parade sel
jenis baru. Satu demi satu kelompok kerjasama ini terbentuk dan
hidup bersama bentuk-bentuk sel tunggal di lautan. Bedanya, sel
eukariota mampu bekerja sama dengan sel eukariota lain, membentuk apa
yang kita sebut mahluk multiseluler.
Lalu, kenapa ada bakteri dan arkea?
Karena Bumi disiram dengan bom
Misi ke bulan memberikan kejutan bagi
kita. Kawah-kawah raksasa di sana ternyata usianya sama. Usia mereka
3.9 miliar tahun. Apa artinya ini? Ini berarti 3.9 miliar tahun lalu
terjadi sebuah pengeboman besar-besaran di Bulan. Sangat jelas kalau
ini juga berarti hal yang sama terjadi di Bumi. Bumi lebih besar,
hanya saja kawahnya habis terkikis proses dinamika planet ini.

Planet Gliese 581 e dengan massa sekitar
1.9 kali bumi, planet paling mendekati Bumi dalam massa yang sudah
ditemukan, berjarak 20.5 tahun cahaya
Tidak jelas mengapa terjadi peristiwa
pengeboman saat itu. Ada yang menduga kalau terjadi resonansi
gravitasi di empat planet raksasa: Yupiter, saturnus, uranus dan
Neptunus. Posisi orbit mereka sedemikian rupa sehingga keseimbangan
diantaranya terganggu sebentar. Akibatnya, asteroid-asteroid tak
berdaya di sekitarnya terlontar ke tata surya dalam, termasuk Bumi.

Dengan berbagai metode, seperti metode SDI disini, para ilmuan menemukan banyak tata surya baru di taburan bintang
Sangat mungkin kalau diantara bom-bom
raksasa penghajar Bumi itu salah satunya atau beberapa adalah komet.
Mereka terbentuk jauh lebih dalam di pinggiran tata surya dan
karenanya membawa air beku di dalam perutnya. Air tersebut terbongkar
saat mereka menghantam Bumi dan menjadi air pertama di Bumi.
Saat pengeboman berakhir, wajah Bumi
benar-benar kacau. Berantakan dengan berbagai kawah berisi lahar di
mana-mana. Seiring waktu, orbit stabil dan Bumi mendingin. Di dalam
kawah-kawah saksi bisu tumbukan kejam itu, mulailah air dari komet
mencair dan menjadi oasis-oasis tempat lahirnya kehidupan pertama di
planet Bumi.
Bila sebelum pengeboman terjadi
ternyata sudah ada kehidupan di Bumi, maka pengeboman tersebut
mungkin menyapu kehidupan, menyisakan bakteri-bakteri yang paling
tahan terhadap panas. Kita melihat bukti ini dari bulan. Lalu kenapa
bulan ada?
Karena Bumi ditampar
4.5 miliar tahun lalu, bumi hanyalah
bayi planet yang rentan. Sementara di mana-mana berterbangan bebatuan
raksasa yang tidak jelas arahnya. Satu di antaranya menampar bumi.
Sang penampar berukuran lebih kecil. Saat ia menghantam Bumi,
sebagian dirinya tertanam di planet ini, sebagian lagi terlontar
balik ke luar angkasa. Inilah bulan, yang engkau lihat di langit
malam.
Pasangan Bumi-Bulan tidak ada
bandingnya di Tata Surya. Planet lain punya satelit yang jauh lebih
kecil darinya. Tidak heran Yupiter sang raksasa punya puluhan
satelit. Mereka umumnya berasal dari batu-batu kecil yang terjebak di
titik gravitasi dan menumpuk, atau berasal dari batuan yang lewat
terlalu dekat dengan planet hingga tertarik dan tak dapat lepas.
Keberadaan Bulan mencegah perubahan
liar dalam pola pemanasan Matahari di permukaan Bumi. Akibatnya Bumi
tidak mengalami ayunan iklim yang ganas. Bumi juga tidak mengalami
perubahan suhu yang drastis dimana Bumi membeku sepenuhnya. Kondisi
yang ideal untuk berkembangnya kehidupan.
Selanjutnya, kenapa ada Bumi, Bulan dan Matahari, dan planet-planet di Tata Surya?
Karena ada Bintang yang Meledak
Alam semesta dipenuhi hidrogen,
helium dan debu di mana-mana. 4.6 miliar tahun lalu, Salah satu pojok
yang padat dengan adukan ini mendapatkan limpahan energi.
Petunjuknya datang dari meteorit. Berbeda dengan batuan asli planet
Bumi, meteorit nyaris tidak berubah semenjak ia diremas saat Tata
Surya terbentuk. Meteorit tua ditemukan mengandung banyak besi-60,
sebuah isotop radioaktif berat. Hanya ada sedikit sekali fenomena
yang bisa menyebabkan isotop ini terbentuk di antariksa. Yang paling
mungkin adalah supernova. Ledakan bintang raksasa. Ia ibarat goresan
korek api untuk menyalakan sumbu bom evolusi di Tata Surya. Awan gas
yang merupakan adukan hidrogen, helium dan debu kita terusik dan
terkompres. Teori lain mengatakan kalau tidak lah perlu supernova.
Bukti menunjukkan sambaran angin bintang raksasa yang cukup dekat
dengan awan gas ini dapat memicu pembentukan Tata Surya. Bintang
tersebut sendiri mungkin sudah berjalan dalam orbitnya entah kemana,
menyisakan tungku bintang menyala di tengah awan gas yang baru di
ganggunya. Dan terbentuklah matahari, bersama planet-planetnya.
Lalu mengapa bahan seperti hidrogen, helium dan debu itu ada? Dengan kata lain, mengapa materi ada?
Karena Tidak Segalanya diciptakan Berpasangan
Bila segalanya berpasangan, maka
tidak akan ada materi. Idealnya setiap partikel yang tercipta dalam
Big Bang memiliki anti partikel. Saat keduanya bertemu, terjadi
penghancuran satu sama lain, dan dua foton energi tinggi saja yang
tersisa. Alam semesta seharusnya berisi lautan cahaya. Itu saja.
Memang ada sedikit kecenderungan ke
arah satu sisi saat penghancuran diri partikel vs anti partikel. Tapi
hal ini sangat tidak cukup menjelaskan kelimpahan materi di alam
semesta sekarang. Entah mengapa tidak semua partikel memiliki anti
partikel saat Big Bang, 13.75 miliar tahun lalu. Menurut para ahli
fisika teoritis, tampaknya alam semesta kita kebetulan memiliki
variabel yang sedikit memungkinkan materi. Ia cukup untuk membuat
materi ada tapi tidak cukup untuk membuat seluruhnya materi (tanpa
cahaya). Dalam tak terhingga alam semesta, ada yang seluruhnya lubang
hitam, ada yang seluruhnya cahaya, ada sedikit yang mengandung
materi dan cahaya. Salah satunya alam semesta kita.
Jadi, mengapa alam semesta seluas ini?
Karena Alam Semesta Berinflasi
Cukup 0.000 000 000 000 001 detik
mundur dari saat anihilasi materi – anti materi kita sebelumnya. Bila
model semesta inflasi benar, maka saat ini alam semesta diselubungi
medan inflasi yang mengendalikan ekspansi eksponensial alam semesta
hanya dalam periode 10-32 detik. Ia merentangkan alam semesta kita menjadi datar dan seragam.
Pengembangan mendadak ini dipengaruhi
efek kuantum. Gejolak kuantum membuat satu daerah sedikit lebih
padat dari daerah lainnya. Hasilnya adalah bolongan-bolongan di alam
semesta kita, yang disebut void. Seratus juta tahun cahaya ke segala
arah kita, ada daerah kosong yang begitu besar, gelap, tanpa galaksi,
tanpa bintang. Bila variasi ini sedikit saja lebih kecil, maka kita
tidak akan ada.
Semua variasi ini tampaknya acak dan
sebagian besar fisikawan percaya kalau fluktuasi kuantum sama sekali
tidak memiliki sebab. Ia adalah sifat dasar alam semesta.
Pada akhirnya adalah pertanyaan mengapa alam semesta ada?
Tidak ada satu orang pun yang Tahu
Ya. Ini tampaknya jawaban yang tidak
diinginkan. Kita memang ingin tahu. Tapi sains tidak dapat
menjawabnya. Sains cukup berbesar hati, dengan segala metode dan
teknologi paling maju dan otak paling brilian di alam semesta, kita
belum tahu mengapa alam semesta ada. Yang kita punya hanyalah
setumpuk karya ilmiah fisika teoritis tanpa bukti eksperimental sama
sekali. Memang kita berusaha, para ilmuan sibuk menguji model standar
di LHC dan laboratorium-laboratorium. Mereka juga menatap ke
antariksa dengan berbagai teleskop super tajam.
Beberapa dari kita tampak gatal untuk
menjawab tanpa pengetahuan. Seorang teman mengatakan, karena Tuhan
ada. ia menciptakan alam semesta. Hal ini saya katakan kurang
pengetahuan karena well, memang tidak memerlukan pengetahuan untuk
mengatakan hal tersebut. Ambil contoh petir. Jaman dahulu orang tidak
tahu tentang petir, maka mereka mengatakan Tuhan sedang marah.
Sekarang kita tahu kalau petir adalah peristiwa alam biasa.
Begitu pula fenomena Big Bang. Apa
yang kita tahu adalah alam semesta mengembang ke segala arah.
Karenanya bila dimundurkan ke masa lalu, ia akan berukuran sangat
kecil. Sedemikian kecil hingga satu titik dimana hukum fisika yang
kita ketahui runtuh. Suatu yang disebut skala Planck yang terdiri
dari panjang minimum dan waktu minimum (panjang Planck dan waktu
Planck)
Bagaimana alam semesta pada panjang
lebih kecil dari panjang Planck? Bagaimana alam semesta sebelum waktu
Planck? Inilah dimana pengetahuan kita kurang. Kita belum cukup
pandai. Yang dibutuhkan adalah pengetahuan yang lebih banyak,
bukannya menjawab tanpa pengetahuan.
Para ilmuan paling brilian berdebat
tentang apa yang ada dalam skala Planck. Ada yang bilang kalau ruang,
waktu, dan hukum fisika berada dalam singularitas dimana segalanya
muncul dari ketiadaan. Ada juga yang bilang kalau alam semesta kembali
mengembang dalam siklus kembang – kempis tiada akhir (osilasi).
Jika seandainya Tuhan menciptakan alam semesta, lalu siapa
menciptakan Tuhan? Sejauh yang kita tahu, alam semesta bukan hanya
ada satu. Ada tak terhingga alam semesta. Apakah Tuhan juga
menciptakan tak terhingga banyaknya alam semesta tersebut? Ataukah Ia
ada di salah satu alam semesta? Apakah ia mengikuti hukum fisika
ataukah ia membuat hukum fisika? Lalu dengan hukum apa ia membuatnya?
Dst dst
Seperti yang anda lihat. Solusi
Tuhan adalah sebuah jalan buntu. Tidak ada lagi kegembiraan akan
penemuan baru, dan tidak ada lagi semangat petualangan ilmiah.
Ketiadaan ilmu, itulah yang dicerminkan dari solusi Tuhan.
Mungkin benar apa yang dikatakan
Stephen Hawking, alam semesta ada karena adanya hukum dasar fisika
seperti gravitasi. Setiap saat tercipta alam semesta dengan segala
variasi yang mungkin ada, saling bertumpuk satu di dalam yang lain.
Sekarang dengan semangat inkuiri kita, kita bisa berjuang mencari
alam semesta lain tersebut, dan bahkan mungkin membuat alam semesta
kita sendiri di lab.

Profesor Filsafat Mark Tegmark
berpendapat kalau jumlah alam semesta bukan hanya tak terhingga, tapi
meliputi semua ruang matematik yang mungkin dalam keabadian tiada
awal dan tiada akhir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar